Articles by "Inspirasi"

Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan


Sebagian besar manusia tidak mengetahui kenapa ia diciptakan. Alasan ini sepertinya tidak berlebihan jika melihat fenomena yang terjadi dewasa ini. Karena tidak mengetahui alasan kenapa diciptakan itulah yang menyebabkan manusia salah bahagia.
Dalam agama, Tuhan menyampaikan alasan penciptaan makhluk-Nya untuk ibadah kepada-Nya. Namun pesan ini nampaknya belum tersampaikan pada makhluk-Nya secara utuh. Bukan ayat-Nya yang salah, namun kebodohan makhluk-Nya itulah yang menyebabkan ketidaktahuannya kenapa ia diciptakan.
Aristoteles, seorang filsuf asal Yunani dalam karyanya Ethika Nicomachea, menjelaskan bahwa “Tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan (eduaimonia).” Saat kebahagiaan itu telah digenggamnya, maka seseorang tidak lagi membutuhkan apa pun. Dengan alasan kebahagiaan itulah banyak dari manusia yang rela bekerja, banting tulang, pergi pagi pulang petang. Atas alasan kebahagiaan itu pulalah manusia sibuk mencari harta dan wanita, atas alasan kebahagiaan itu jualah manusia berebut tahta, dan atas alasan kesenangan itu jugalah manusia melakukan mabuk-mabukan, narkoba, judi, perbuatan asusila dan perilaku hedonisme lainnya. Semua itu hampir memang tidak dipungkiri bahwa faktor pendorongnya adalah atas alasan mencari kebahagiaan.
Berabad lamanya manusia mencari sumber kebagiaan, namun tak jua didapatkan. Bukan kebahagiaan yang tidak ada, atau bukan Tuhan tidak menciptakan kebahagiaan. Namun, memang sebagian dari manusia tidak mengetahui sumber kebahagiaanya. Menganggap bahwa materi adalah sumber kebahagiaanya, namun taktala ia (materi) diambil oleh Tuhan, mereka kehilangan kebahagiaanya. Menganggap bahwa tahta dan wanita juga sebagai alat pembahagianya, saat tahta dan wanitanya diambil Tuhan, mereka juga kehilangan kebahagiaanya. Menganggap bahwa perilaku hedonisme adalah cara mendapatkan kebahagiaan, ia (perilaku hedonisme) pun semu dan kebahagiaan yang dicarinya tak juga didapatkan. Namun sayangnya sebagian besar manusia tak mau mengambil pelajaran berharga kehidupan ini. Berabad waktu telah membuktikan ke-semu-an itu, namun manusia pun masih terlena olehnya. Sedang sedikit dari manusia yang berhasil menemukan sumber kebahagiaan hidupnya, kebahagiaan yang hakiki pemberian ilahi. Ia (kebahagiaan) tak lekang oleh ruang dan waktu, ia (kebahagiaan) juga tak tersekat oleh makhluk-Nya. Ia (kebahagiaan) lahir dan bersumber dari ilahi pemilik nur kebahagiaan abadi.
Itulah alasan kenapa Tuhan memerintahkan makhluk-Nya untuk beribadah. Sungguh Tuhan tidak butuh ibadah makhluk-Nya. Karena jika demikian, Tuhan masih terlalu kecil untuk disembah karena Ia masih bergantung pada makhluk-Nya. Tuhan, Allah sungguh tidak demikian. Tuhan sungguh dzat maha agung yang tidak bergantung pada makhluk-Nya. Tuhan dzat maha kuasa atas segala bentuk penciptaan dan pemeliharaan-Nya. Jika pun seluruh makhluk-Nya mengingkari ketuhanan-Nya, sedikit pun tidak mengurangi kemahagungan-Nya. Juga sebaliknya, jika pun seluruh makhluk-Nya tunduk, patuh dan beribadah kepada-Nya, sedikit pun tidak menambah kemahabesaran-Nya. Patuh dan tidaknya makhluk ciptaan-Nya, tidak mengurangi wibawa kebesaran kerajaan-Nya.
Sungguh Tuhan menciptakan makhluk-Nya untuk ibadah kepada-Nya adalah untuk kebahagian makhluk-Nya. Tuhan sungguh mengetahui kelemahan makhluk-Nya yang tak mampu dan kuasa melakukan apa-apa. Tuhan tau makhluk-Nya butuh sandaran untuk mengadu dan berkeluh kesah. Itulah kenapa ia perintahkan untuk ibadah, agar makhluknya dapat berkomunikasi dengan-Nya. Agar ada tempat mengadu dan berkeluh kesah atas segala bentuk dinamika hidupnya. Agar makhluk-Nya tau bahwa Ia selalu hadir disetiap gerak langkahnya. Agar Makhluknya tau bahwa ada yang selalu menemani saat semua tiada. Sungguh demikian baiknya Tuhan terhadap makhluk ciptaan-Nya. Tuhan tak pernah melihat seberapa besar kemungkaran, kemaksiatan dan kenistaan perilaku hamba-Nya, Ia (Allah) selalu menyediakan ampunan baginya. Berapa pun kikirnya hamba-Nya, Ia (Allah) selalu mencukupi seluruh nikmat hidupnya. Berapa pun banyaknya Tuhan disalahkan oleh hamba-Nya, Ia (Allah) selalu menemani dan membantu kesusahannya. Berapa pun jauhnya hamba-Nya dengan-Nya, Ia (Allah) selalu hadir lebih dekat dengannya.
Sungguh demikian sayangnya Tuhan dengan makhluk-Nya, Ia ciptakan ibadah sebagai sumber kebahagiaan hidupnya. Namun berapa banyak dari hamba-Nya yang mencari kebahagiaan selain dari sumber kabahagiaan hakiki Tuhannya?. Apapun dan bagaimanapun alasan untuk mencari kebahagian selain dari-Nya selama itu jualah kebahagiaan tak kunjung ditemukan.
Semoga kita pun lebih pandai melihat dan mencari sumber kebahagiaan hidup.
Kebahagiaan hakiki yang bersumber dari ilahi. Yang hidup kekal abadi di dalam hati.
Agar, tak lagi seperti orang yang hidup dalam kegelapan.
Agar, tak lagi seperti orang yang hidup dalam kesusahan mencari kebahagiaan.

Wallahu A’lam.
Surabaya, 16 Mei 2016



Teman…
Bagi sebagian orang, kuliah merupakan barang dan kesempatan yang amat berharga dan langka. Banyak dari mereka yang ingin menikmati bangku kuliah seperti kita yang akan, sedang dan telah menikmatinya,  harus pupus di tengah jalan. Mereka pun harus rela menanggalkan harapan, cita-cita dan mimpi mereka hanya demi sebuah kesempatan. Ya, hanya karena kesempatan yang belum berpihak, mereka pun harus ikhlas menerima sebuah realita kehidupan, realita bahwa mereka harus berjuang lebih keras. Taukah teman, berapa besar harapan dan cita-cita mereka hanya untuk merasakan nikmatnya duduk di bangku kuliah dan merasakan manisnya ilmu pengetahuan? Tak terbayang teman, sungguh tak terbayang!. Andai mereka pun memiliki dan atau diberi kesempatan yang sama seperti kita yang merasakan atmosfir pendidikan dunia kampus, tentu mereka tidak harus keras berjuang mengais rupiah, tidak bingung harus kemana mereka menentukan masa depan. Namun demikian, semua itu menjadi sebuah kenyataan yang harus mereka emban demi keberlangsungan kehidupan mareka. Kerasnya mengais rezeki di usia dini bukan lagi menjadi halangan bagi mereka. Menyampingkan kesenangan masa remaja bukan lagi menjadi gengsi bagi mereka. Semua dengan ikhlas mereka jalani hanya untuk sebuah kesempatan, kuliah!. Kita tak pernah tau bagaimana air mata mereka menetes di setiap doanya melihat rekan seperjuangan mereka di bangku SMA bisa bahagia, tersenyum dan menikmati indahnya dunia kampus. Tak jarang mereka harus tersenyum di depan kita hanya untuk menutupi kepedihan realita. Tak jarang juga mereka tertawa lepas di depan kita hanya untuk menghilangkan penat cita-citanya.

Teman…
Kita adalah orang-orang yang beruntung, yang Tuhan berikan kesempatan menikmati indahnya pendidikan. Maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak berhasil dan menebar manfaat bagi sesama, bagi mereka yang belum merasakan manfaatnya ilmu pengetahuan. Maka tak ada alasan untuk kita bermain-main menghabiskan waktu kuliah dengan nongkrong, menghabiskan waktu kuliah dengan aktifitas-aktifitas kesia-siaan. Karena jika demikian yang kita lakukan, kita telah lebih mengecewakan mereka yang tidak senasib dengan kita. Kita adalah orang-orang yang diberikan amanat oleh Tuhan untuk menjadi insan cendikia, ilmuan dan akademisi penebar manfaat. Maka saat kita pun masih main-main dengan apa yang kita lakukan di masa kuliah, kita telah menyia-nyiakan amanah Tuhan.

Teman…
Kuliah bukan untuk sebuah gengsi, apalagi sekedar ikut-ikutan agar terlihat beken. Kuliah bukan hanya untuk sebuah pekerjaan, kuliah bukan hanya untuk suksesi masa depan apalagi untuk sebuah jabatan tapi kuliah adalah soal tanggung jawab, soal perubahan dan soal kebermanfaatan bagi sesama. Kuliah adalah sebuah tanggung jawab besar yang harus dipertanggung jawabkan entah pada orang tua, masyarakat, bangsa, agama dan bahkan Tuhan. Kuliah adalah sebuah perubahan cara berpikir, cara pandang, tutur, sikap dan perilaku, dan kuliah adalah soal sebesar apa kebermanfaat diri bagi sesama. Bagaimana pun jadinya kita pasca kampus, gelar pendidikan itu akan terus melekat di pundak kita. Maka tak elok sepertinya bagi kita yang masih mengeluh dengan deretan tugas pak dosen dan tak pantas sepertinya bagi kita yang masih copy paste tugas kuliah, apalagi perkara nitip absen, bolos dan malas kuliah. Karena jika demikian adanya kita telah mencoreng nama baik pendidikan, nama baik kaum akademisi, dan nama baik pembesar cendikiawan. Lebih dari itu semua kita bukan lagi termasuk orang-orang yang bertanggung jawab.

Oleh karenya teman…..
Nikmati masa kuliah kita dengan baik agar kelak bisa menebar manfaat. Nikmati prosesnya dengan bijak agar kelak bisa berprilaku sesuai tuntunan dan hayati perjalanannya dengan baik agar kelak bisa bertanggung jawab dengan apa yang sudah kita lalui. Rumuskan tujuan dan luruskan niat, perbaiki amal dan rubah cara berpikir. Kita bukan sedang main-main yang mudah mengeluhi proses pendidikan. Nikmati prosesnya, lakukan yang terbaik, jauhi hedonisme yang merusak pendidikan, bangsa dan agama. Jadilah mahasiswa yang bijak penebar manfaat, jadilah mahasiswa yang baik penuh kreasi-inovasi dan jadilah mahasiswa yang arif penuh karya. Apapun ilmu yang kita geluti dan Bidang apapun yang kita pelajari pastikan bisa menjadi manfaat bagi sesama, agama bangsa dan negera.

Selamat Berkarya….
Selamat Berjuang….
Selamat berkreasi dan berinovasi

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016
Maju dan Jayalah Pendidikanku!!

Salam Mahasiswa!
Surabaya 02 Mei 2016



Setiap yang bernyawa pasti menemui ajalnya, setiap yang bernafas pasti menemui masanya. Demikian Tuhan menakdirkan semuanya terjadi atas kehendak-Nya. Jika setiap perjumpaan akan ada perpisahan, jika setiap awal akan ada akhirnya, lalu kenapa kita masih angkuh dalam menjalani hidup ini. Sesungguhnya kematian ditampakkan sebagai bentuk pelajaran berharga bagi kita yang masih hidup. Kematian dipertontonkan kepada kita sebagai nasihat hidup yang berharga. Kematian menjadi jalan untuk kita mengingat bahwa kita adalah makhluk yg tak berdaya dan tak punya kuasa. Kematian juga menjadi nasihat bagi kita yang masih angkuh hidup di bumi-Nya, bahwa kita adalah insan yang sama sekali tidak memiliki kekuatan dihadapanNya, karena sekuat apapun kita pada akhirnya menemui ajalnya, karena seberkuasa apapun kita di dunia-Nya pada akhirnya menjumpai kematiannya dan karena sekaya apapun kita pada akhirnya tak ada satu pun yang kita bawa di hadapan Tuhan.
Kematian akan menjadi jalan kita berjumpa pemiliknya, Tuhan Allah SWT. Lalu bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadap-Nya?. Amal apa yang sudah kita lakukan untuk-Nya agar tatkala ditanya oleh-Nya ada alasan untuk kita mengaku sebagai hamba-Nya?. Sudahkah semua langkah hidup kita saat ini menjadi jembatan kita bertemu dengan-Nya di syurga-Nya, atau sebaliknya menjadi jalan bertemu dengan-Nya di nerakanya?.
Untuk kita yang masih angkuh berdiri di bumi-Nya, untuk kita yang masih belum mengenal Tuhannya, dan untuk kita yang masih belum punya banyak amal untuk menghadapNya. Masih adakah alasan yang membuat kita enggan memperbaiki diri, memanfaatkan sisa hidup untuk lebih mengenal-Nya dan menghabiskan sisa hidup untuk memperbanyak bekal menghadap-Nya. Agar kelak, saat Tuhan bertanya, tubuh kita tidak kaku dilekang oleh dosa. Agar kelak, saat kita dibangkitkan, amal baik kita menjadi teman yang setia menemani. Karena kematian tidaklah terjadi secara terencana, maka jalan terbaik menghadapinya adalah dengan mempersiapkannya secara baik dengan amal-amal terbaik kita.
Kehidupan dunia yang saat ini kita nikmati adalah sebuah kefanaan yang tak kekal dan abadi. Sedang akhirat sudah menjadi pasti keabadiannya. Maka mereka yang sibuk menyiapkan dunia yang sesaat, akan kehilangan moment berharga hidup dalam keabadian surga-Nya. Mereka yang sibuk dengan mengisi hidup dengan kenistaan diri, akan kehilangan “teman baik” saat dihisab dihadapan-Nya. Mereka yang masih bangga memperkaya diri pun pada akhirnya tak memiliki apa-apa saat kebajikan sedikit ia lakukan.
Untukmu yang masih angkuh, untukmu jiwa yang masih gersang, ada masa kita akan kembali, ada masa kita akan mengakhiri permainan dunia ini. Maka jangan terlalu fanatik dengannya, jangan terlalu riuh dibuatnya. Karena akan ada masa kita hidup dalam keabadian, ada masa kita hidup dalam genggaman-Nya yang kekal di syurga atau nerakanya.
Wallahu ‘alam.


Surabaya, 29 April 2016 





Entah berapa tahun Engkau izinkan diri ini hidup di dunia-Mu. Entah baik atau buruk perilaku ini, Engkau tetap cukupkan dengan segala kebutuhannya. Entah patuh atau membangkang, Engkau tetap terus memberikan karunia-Mu. Engkau sudah terlalu baik dalam memenuhi segala keinginan dan kebutuhan hidup ini. Namun Aku tidak mengerti atau bahkan tidak pernah mau mengerti kebaikan yang sudah Engkau berikan dalam hidup. Aku lebih sibuk dengan dunia ciptaan-Mu, Aku lebih sibuk mencari Tuhan lain selain Engkau. Aku lebih sibuk mencari kebahagiaan selain kebahagiaan yang sudah Engkau syariatkan, dan aku lebih sibuk membangun citra diri dari pada membangun hubungan lebih baik dengan-Mu, tapi saat semua kesibukan pencarian hidup itu tak mampu memenuhi segala bentuk harapan hidupku, aku juga lebih ringan mengalahkan-Mu dari pada membaca dari apa yang sudah aku lakukan.

Ah! Kotor sekali sepertinya hidup ini. Padahal aku terpandang-pun karena Engkau ijinkan itu masih bersemayam di diri ini. Aku dihargai orang pun karena Engkau masih menutupi semua aib kenistaan hidup ini. Lalu aku dengan bangga berjalan berlenggak lenggok di atas bumi-Mu. Menganggap semua terjadi karena capaian yang sudah aku lakukan sedang Engkau jarang ada di hatiku.
Padahal semua masalah dalam hidup ini, itu karena ulahku sendiri dan kebahagiaan serta keberhasilan hidup ini pun atas syariat-Mu. Engkau tidak pernah membuatku sengsara melebih kapasitasku sendiri, dan Engkau tidak memberikan ujian melainkan untuk meningkatkan kualitas diriku dan sebagai nasihat atas kelalaian perilaku yang sudah aku lakukan. Aku tau Engkau tidak ingin hamba-Nya hidup dalam kelalaianya, karenanya Engkau ciptakan alqur’an sebagai pedoman hidup hamba-Nya. Karenanya juga Engkau turunkan para nabi-Mu sebagai pembelajaran hamba-hamba-Nya. Namun aku jarang mempercayai semua itu dan memilih mencari tuhan-tuhan lain selain diri-Mu.

Ah! Nista sekali sepertinya hidup ini. Saat para hamba-Mu yang lain membangun kualitas diri di hadapan-Mu, aku memilih untuk membangun citra diri. Citra agar nampak apik di hadapan para hamba-Mu dan citra agar nampak berharga di hadapan para makhluk-Mu. Aku lebih suka penilaian dan penghargaan hamba-Mu dari pada ridho dan restu-Mu. Waktuku pun habis dimakan oleh strategi-strategi pencitraan, sedang amalku tidak nampak di hadapan-Mu. Saat hamba-Mu memanggil dan menyanjungku aku terpesona olehnya dan aku segera hadir memenuhi undangannya, namun saat Engkau memanggilku, aku lebih banyak memalingkan dan mengacuhkan-Mu. Jika pun aku hadir tak jarang Engkau temui aku di sisa-sisa waktu dan tenagaku. Sehingga aku pun jarang merasakan kehadiran-Mu. Al’qur’an-Mu pun lebih banyak menjadi pajangan dari pada diletakan di dalam hati. Aku bukan tidak ingin bersamanya, namun aku tidak punya banyak waktu untuk denganya. Pikirku ada yang lebih penting dari pada harus bersamanya apalagi harus menghafal bagian-bagiannya.

Ah! Bodoh sekali sepertinya hidup ini. Saat yang lain mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadap-Mu. Aku justru lebih asyik menghabiskan bekalku untuk-Mu. Aku pun asyik hidup dengan tanpa amal sedang masa-Mu terus menghantarkanku pada-Mu. Tapi itu tidak lantas membuatku tersadarkan bahwa hidup ini memang ada masanya. Pikirku lebih ingin menikmati keindahan dunia-Mu sehingga tak sempat mempersiapkan bekal untuk-Mu.
***
Tuhan, Engkau tau Topeng diri ini sebenarnya. Sesibuk apapun aku menghias topeng ini, Engkau tau wajahku yang sebenarnya. Aku ingin sekali membuka dan melepaskan topeng yang menjadi tamengku selama ini, tapi aku terlalu takut menampakkan perisaiku di hadapan hamba-Mu. Wajahku tidaklah sebaik topengku. Topengku sudah berhasil aku buat sebaik dari wajah asliku Tuhan. Beri aku waktu memperindah wajahku agar aku berani tampil dengan wajah asliku dihadapan hamba-Mu, agar kelak aku buka nanti aku sudah tidak seburuk wajahku saat ini dan aku bisa hidup bersama-Mu.


Surabaya, 28 April 2016



Manusia konon diciptakan sebagai makluk sempurna dari makhluk Tuhan lainnya. Dikatakan sempurna katanya karena ia dberikan kemampuan-kemampuan yang tidak dimiliki makhluk Tuhan lainnya. Manusia diberikan Tuhan akal untuk berpikir, manusia diberikan hati oleh Tuhan untuk merasa, manusia diberikan kesempurnaan fisik untuk menjadi kholifah dan beribadah pada-Nya, dan katanya manusia diberikan nafsu oleh Tuhan untuk menguji kepatuhannya pada sang penciptanya.

Kesempurnaan manusia itu membuatnya menjadi makhluk terpilih untuk menjadi kholifah dimuka bumi ini. Diberikan mandat untuk memelihara dan merawat bumi dengan segala kebutuhan hidup yang sudah Tuhan berikan padanya. Suatu kehormatan bagi manusia dibanding makhluk Tuhan lainnya untuk mengemban amanat besar Tuhan-nya. Namun demikian, manusia sepertinya lupa bahwa ada amanat-amanat Tuhan kepadanya untuk memelihara dan hidup di muka bumi-Nya.

Manusia mungkin lupa bahwa ia tercipta oleh Tuhannya, sehingga ia jarang menumui-Nya di setiap waktu-Nya. Manusia juga mungkin lupa bahwa ia tercipta untuk menjadi kholifah, sehingga ia sering merusak tempat tinggal dan hidupnya. Manusia juga mungkin lupa bahwa ia tercipta dengan akal budi dan hatinya, sehingga ia tak banyak digunakan dari pada hawa-nafsunya.

Manusia mungkin lupa bahwa ia diciptakan sebagai makhluk sosial, sehingga ia acuh pada saudaranya. Manusia juga mungkin lupa bahwa setiap langkah dan amalnya akan menjadi catatan abadi Tuhan-nya, sehingga ia berbuat semaunya. Manusia juga mungkin lupa bahwa akan ada balasan dari setiap amal baiknya sehinnga ia tak begitu tertarik dengannya dan manusia mungkin lupa bahwa ia hidup di dunia-Nya yang tak kekal-abadi, sehingga ia nampak seperti hidup selamanya di dalam tipudayanya.

Ah! Mungkin manusia berpikir bahwa akan ada alasan pada Tuhannya jika ia tempatnya salah, hilaf dan dosa, sehingga dijadikan pembenaran untuk melakukan ketidak baikkannya berulang-ulang. Mungkin dasar itu pula yang ia gunakan untuk bertaubat dan mengulangi ketidak baikkannya pada Tuhan di kemudian hari.

Manusia mungkin lupa dengan dosa-dosanya sehingga ia hidup damai bak para malaikat-Nya. Manusia mungkin juga lupa jika ia tak punya banyak amal sebagai bekal menghadap pada Tuhan-nya, sehingga ia terus melalui hidupnya dengan kesia-siaan. Manusia mungkin berpikir bahwa ampunan Tuhan lebih besar dari segalanya sehingga ia meremehkan kedahsyatan siksaan Tuhan bagi para pembangkang-Nya.

Ah Dasar! Manusia memang pelupa! Lupa dengan segala janji hidupnya pada Tuhannya. Lupa dengan segala janji sebelum ia tercipta di dunia-Nya. Lupa dengan Tuhannya dan lupa dengan dirinya sendiri!

Ah! Sungguh aku tak mengeri dengannya. Aku juga lupa bahwa aku juga bagian darinya yang aku katakan pelupa!
***
Tuhan, jika Engkau melihatku dalam kelupaan, ingatkan aku segera untuk kembali pada-Mu.
Jika Engkau melihatku dalam lumuran dosa-Mu, Entaskan segera aku darinya.
Tuhan, sungguh aku tidak ingin dikatakan sebagai hamba-Mu yang pelupa.
Juga tak ingin disebut sebagai hamba-Mu yang membangkang

Selamatkan aku Tuhan dari tipu daya dunia-Mu.
Selamatkan aku dari tipu daya syaitan makhluk-Mu
Dekatkan aku dengan para malaikat dan rasul-Mu, agar aku bisa hidup bersamanya kekal di firdaus-Mu


Surabaya, 26 April 2016

Kutulis notes ini dengan air mata kesyukuran, kebahagiaan dan keharuan yang mendalam. Notes ini ku persembahkan untuk ummiku tercinta yang cintanya melebihi luasnya samudra. Kasihnya lembut melebihi lembutnya sutra. Tak lupa rasa syukurku yang tak terhingga untuk Tuhanku yang maha Hidup, yang menghidupi segenap jiwa setiap insan, Allah ajjawajalla. Yang telah memberiku segalanya. Telah mempertemukanku dengan orang-orang yang tulus mencintai, menyayangi dan berbagi yang tak hanya saat suka.  

Tak ada yang pantas, yang keluar dari mulut seorang hamba yang doif sepertiku ini, selain rasa syukur yang tulus dari relung hati yang tak bisa di ungkapkan dengan untaian indah kata bermakna. Pasalnya sudah banyak yang Allah berikan untukku, untuk kehidupanku dan untuk segenap jiwa ragaku.

Ummi, restu dan do’amu jualah yang telah menghantarkanku pada kehidupanku saat ini. Aku saat ini adalah buah kasih cintamu padaku yang tulus. Mencintai dan menyangiku dengan segenap jiwa ragamu. Hadir saat semua orang menghilang. Dan ada saat orang lain pergi. Kau temaniku tak hanya dalam suka. Duka, lirih dan perihku menjadi damai saat kau hadir dalam  masa pahit kehidupanku.

Engkau besarkan raga yang kecil ini, hingga terus tumbuh membesar.
Engkau didik jiwa ini, hingga terus tumbuh subur menapak cakrawala.

Aku tak tau harus bagaimana mencurahkan kasih dan cintaku untukmu, terlalu besar cintamu untukku Ummi.
Aku tak tau harus bagaimana membuat raut wajahmu yang semakin menua itu tersenyum indah menatap diriku, Terlalu kecil cintaku untukmu Ummi.

Aku hanya bisa mengadu pada Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan kita semua. Semoga perjumpaan kita tak hanya saat di dunia. Akhirat menjadi tempat abadi kita mengadu dan berbagi kasih dengan Tuhan, Allah.
Cintamu tak bisa dilukiskan dengan apapun. | kasihmu tak bisa di gambarkan dengan siapapun. 

***

Ummi,,,
Kini aku tumbuh berkembang menjadi sosok remaja. Tubuhku yang dulu kecilpun kini sudah membesar. Sebesar apapun upayaku dalam menapaki kehidupan, Ridho dan restumulah yang ikut menghantarkanku pada mimpi-mimpiku. Sudah cukup tauladanmu bagiku ummi.

Saat kau pertama mengemban amanah Tuhanmu…
Saat kau ikhlas membagi kasih dan cintamu….
Saat itulah ku belajar ketulusan darimu

Engkaulah cawan cinta yang tak habis kureguk,
Cinta sucimu tak bisa kubalas dengan sejuta baktiku kepadamu.

Engkau adalah harapan dari setiap helaan nafasku
Engkau ajariku arti getirnya hidup dan kehidupan padaku….

Cinta tulusmu membawa anak-anakmu menjadi generasi yang cerdas
Pengabdianmu menghantarkan putra-putramu ke pintu gerbang kebahagiaan.

Terima kasih kuucapkan padamu.
Terimalah kasih cinta suciku untukmu
Engkaulah inspirasike hidupanku.

***

wajahmu yang dulu cantik, kini mulai keriput.
rambutmu yang dulu hitam, kini mulai memutih.
langkahmu yang dulu tegak, kini mulai membungkuk.

Namun cinta tulusmu tak pernah lekang di makan waktu
Pengorbananmu menjadi saksi bisu kehidupan
Ketulusanmu akan membawamu pada pintu jannah-Nya.

Ummi….
Kau terbangun saat fajar mulai terbit.
Kau tunaikan ibadahmu sebelum kau mulai hari muliamu.
Pagi itu…. Ku terbesik saat ayat suci itu kau lantunkan
Terdengar jelas suara merdumu itu membaca kalam-Nya.

Ketika mentari belum tegak di atas kepala
Dengan semangatnya kau sambut imam dan anak-anakmu dengan senyum indahmu
Kau hidangkan makanan untuk mereka dengan ketulusan cintamu

Saat waktu dhuha itu tiba…
Kau bergegas menuju kamar kecil untuk mengambil sucinya air wudhu
Menghambur menuju sajadah suci tempat berpadu…
Berbalut kain putih bersih dengan bulir air wudhu yang belum sempat mengering….
Disana ibu  bersama dengan segala ketawadhu’annya
Mulai bertuturan bibirnya memanjakkan bacaan sholat 
Gerakan lembut yang meneduhkan …
Ritual dahsyat  yang belum pernah aku temukan dalam peristiwa apapun

Sempataku bertanya  padanya…
Mengapa begitu sangat mendamaikan
setiapaku memandangi ibu ketika sedang menghadap Allah

Binar mata ku membuat senyum ibu terlukis di pipinya…
Betapa agung desir yang berpilin di dasar hati
Ketika menyaksikan panorama keagungan di hadapanku saat itu

Tubuh ringkih dan kulit tak kencang yang menggelayut di parasnya kini
Tidak sedikitpun menjadi alasan lelah dan menunda-nunda pekerjaannya

Waktu yang terbuang percuma,
Sama halnya dengan menghapus  benih-benih kebaikan tuk mencapai  keberhasilan
Begitu kata ibu kala aku tengah lalai dan malas

Kini, Izinkaku persembahkan Piala Kecil ini untukmu UMMI. Biarlah ini menjadi kesan di akhir-akhir masa-masa kuliahku. Ini adalah Buah hasil dari doa dan perjuanganmu.|  Ini tidaklah cukup untuk membalas apapun darimu.  
Izinkanku untuk mengukir lebih banyak prestasi agar ku bisa mempersembhakan lebih banyak untukmu. Aku rindu senyum manismu ummi.| izinkan anakmu ini mengukir cawan cinta untuk kau kenang. Biarlah kebersamaan kita menjadi saksi kebahagiaanku memiliku Ummi sepertimu.

Izinkan kaki ini melangkah untuk sebuah mimpi dan cita-cita. Menggapai mardhotillah. Upayaku tak bisa wujudkan mimpiku, doaku tak bisa hantarkanku pada cita-citaku. Tapi do’amulah,Restu tuhan yang menghantarkanku pada sebuah IMPIANku dulu, Kini dan nanti.  

Dream Courner, Serang 27 April 2013
Teruntuk Ummiku dari anakmu.


Ketika rasa itu menghampiri.... perilaku tak seindah perangainya.| Tutur tak selembut maknannya.
Hampa.... hilang....!!! semua asa dalam diri, kenikmatan mulia tuhannya tak mampu membuat mata hatinya terbangun. | Noda dan nista dalam qolbu telah menutup fatamorgana kehidupan. | Hitam putihnya amal tak lagi tersandang dalam nuraninya. | Berlaku dan bertindak sesuai dengan nafsunya..!!

Ah.... Dasar memang, Manusia tak tau diri...!!! tak mengerti bahwa kelak Tuhan akan menjemputnya, bersanding disisi-Nya.

Tak mengerti, bahwa amalnya adalah teman abadinya yang menemani dalam kegelapan.
Sudahlah.....!!! taklagi ada artinya nafsumu itu. Amal, karya dan prestasi ilmumu yang akan membangun dan membesarkan namamu. Bukan nafsumu..!!!

***

Mana mungkin aku menjadi manusia terbaik disisi-Nya. Jika amalkupun tak pantas bersanding dengan-Nya.|mana mungkin aku menjadi manusia mulia dimata para insan, jika langkahku tak memberi manfaat. | mana mungkin aku menjadi insan cerdas, jika tingkahku masih bodoh dan kerdil. 

Yah.... MANA MUNGKIN...!!!
AKU MARAH....!!! AKUKESAL....!!! AKU GUNDAH DENGAN SEMUA INI...!!!

Anganku saja yang besar, Mimpiku saja yang membumi. Namun aksiku ciut..!! jangankan untuk melangkah, jangankan untuk bergerak..... berpikir OPTIMIS saja tak mampu..!!.
Pesimispun seolah menjadi jalan pembenaran. Menyalahkanpun seolah menjadi jalan terbaiknya. Sedang langkahnya terus tak bergerak.| mengadu seakan mendapat jawaban.| berdo’a seakan mendapat pertolongan... Sedang melangkah saja TIDAK..!!

Ayolah...!! hari sudah semakin siang...mentari sudah semakin hangat sinarnya, dan waktu terus  berputar.
Bangunkanlah jiwamu...jangan sampai kamu terbangun di saat rembulan kembali bercahaya,| jangan sampai kamu melangkah saat detak jarum jam terhenti.

***

Aku tak ingin terbangun saat rembulan bercahaya, hanya saja mata hatiku rentan silau oleh sinar mentari. | aku terbuai akan rasa tak yakin untuk bisa menembus bias gersang siang. Jadi langkahku lamban dan tak pasti. | aku tak pernah ingin mengakui jika aku sosok mandiri, jadi mengadu adalah jalan alternatifku.

Kamu tau bukan,,? Bahwa penyesalah akan meghampirimu di senjanya usiamu. Di gelapnya malammu dan diakhir usiamu Jika kamu tak melakukan yang terbaik hari ini..??
Ah...Sudah...!! aku bosan denganmu. | Nasihatkupun tak kau dengar. Petuahkupun tak kau hiraukan. Aku kasihan denganmu... mau dibawa masa emas kehidupanmu itu...??!!!

***

........ :( beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri, belajar menjadi diri berkualitas. Agar saat ada dihormati dan disegani, dan saat tiada di kenang dan dirindukan.

Bukankah Tuhan sering memberimu kesempatan dan harapan....??!! pikirmu saja yang kerdil. Tak pandai bersyukur bahwa Tuhan sudah sering memberimu nikmat, Bahkan yang tidak kau mintapun Dia kasih, Bukan..?? kurang apa nikmat tuhan untukmu...?? bukankah Tuhanmu sering menanyakan padamau dalam Firman-Nya...

“ Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau Dustakan...?? “

Syukurnya dirimu tak sebanyak nikmat Tuhanmu.| Jadi sudahlah.... Bukan waktunya lagi kamu tertidur, menikmati zona nyamanmu dan meratapi dirimu.
kamu saat ini sudah terbentuk dengan perilakumu dimasa lalu.| yang saat ini bisa kamu lakukan adalah membentuk dirimu dimasa yang akan datang...!!
Jika kamu terus meratapi dirimu saat ini, ya ada justru waktumu yang akan habis terbuang sia-sia. Banyak waktu yang bergulir tak berguna. Sedang waktu terus berputak tak bisa dihentikan. Langkahmu akan semakin jauh tertinggal dengan orang-orang yang justru produktfi menggunakan waktunya.

*** 

Sekilas tak ada yang berbeda dari pagi itu. Semua terjadi apa adanya, Murid-murid dengan semangatnya mengikuti perlombaan. Guru-guru dengan setia menunggu anak didiknya sampai usai perlombaan. Yah,, memang tak ada yang beda dari pagi itu di sekolah tempat dilaksanakannya Olimpiade Tingkat Kota itu. Sekeliling mata ku memandang, ada yang membuat pendanganku terhenti. Melihat sesorang yang dengan tekun mengambil satu persatu dan mengumpulkan sampah-sampah yang mengotori setiap penjuru ruang sekolah. Selain sikapnya yang gigih yang menggugah hati dan pandangaku, namun postur tubuh dan besarnya pikulan yang ia bawa. Ia adalah sosok anak yang seharusnya juga ikut mengenyam pendidikan seperti anak-anak lainnya di sekolah, bahkan lebih dari itu, ia seharusnya mendapatkan perhatian, kasih sayang dari masa-masa indah kecilnya yang penuh warna. Yang membuat semakin tertegun adalah barang yang setia ia bawa dari satu tempat-ke tempat lainnya. Tubuhnya bahkan lebih kecil dari pikulan yang menggendong di pundaknya. ia kisaran anak seusia sekolah dasar yang harusnya menikmati masa keemasannya.

Ia dengan tekun mengambil satu persatu sampah di setiap penjuru halaman, rasa malu, lelah dan letih tak lagi menjadi penghalang untuk mengais rizki dari sampah-sampah yang ia ambil. selangkah demi selangkah ia terus berjalan di setiap sudut ruang sekolah. langkahnya terus tertuju pada sampah yang terjatuh atau tergeletak di halaman sekolah itu. pandangan orang-orang sekelilingnya tak lantas membuatnya malu untuk "memulung". Rasa Gigih, sikap dan Semangat Juang itu yang membuat hatiku terpukul. tercabik dan tersayat dari "Ibroh" yang Allah perlihatkan padaku pagi itu. Tak ada yang kebetulan dari setiap langkah ini. begitupun dengan langkahku pagi itu yang di pertontonkan perjuangan seorang anak kecil yang gigih, semangat, dan berjuang demi masa depannya yang lebih baik.

Astagfirullah,,, diriku yang begitu banyak diberikan waktu, kesempatan, dan kecukupan rizki. yang tak harus keras berjuang seperti itu. kesempurnaan fisik yang kuat, yang tak harus ku mengeluh lebih dari hidupku saat ini. aku masih menyia-nyiakan waktu dari setiap kesempatan hidup yang ada. masih menyia-nyiakan dari setiap rupiah yang dimiliki. Masih terlena dengan semua fasilitas dan kesempurnaan fisik yang ada. Seharusnya, diriku yang tak harus sekeras anak kecil itu berjuang, banyak karya dan prestasi yang diraih. banyak harta yang diinfaqkan di jalan-Nya. dan banyak waktu yang harusnya produktif. bukan justru mengisi hari-hari dengan hura-hura, bermain dan hal-hal yang tidak bermanfaat. menggunakan dengan baik dari rizki yang Allah berikan. Hari ini benar-benar menjadi pelajarn berharga untukku. dan mungkin untuk kita semua setelah sahabat baca tulisan ini. Anak itu benar-benar menjadi guru kehidupan sepanjang masa.

Sahabat,,, 
Selagi Allah masih memberikan kita kesempatan, selagi nafas ini masih dapat kita hirup, selagi matahari belum terbit dari barat. akan lebih indah jika kita gunakan waktu yang ada, dan kesempatan yang langka untuk memperbanyak ibadah yang masih sering kita tinggalkan, untuk memperbanyak amal kebajikan yang sering lupakan. Selagi Allah memberikan rizki yang cukup, akan lebih mulia jika kita memperbanyak amal jariyah, infaq dan sodaqoh, berbagi kebahagiaan pada orang-orang yang memang layak menerimanya. karena jika kesempatan tak lagi ada, umur tak lagi bersama, matahari terbit dari ufuk barat, dan rizki tak lagi mencukupi. semua harapan, kenginan dan niat mulia kita hanya akan menjadi sia-sia.
waktu ini sangat amat berharga, kesempatan ini amat sangat mulia dan hidup kita saat ini amat sangat disayangkan jika dipergunakan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. karena disisi lain masih ada orang-orang yang tidak seberuntung kita saat ini, yang harus lebih keras berjuang dalam menjalani hari-hari dimasa hidupnya, yang harus lebih keras mengais rizki dari Rizki-rizki Allah yang bertebaran dimuka bumi ini. Kesempatan ini, kesempurnaan fisik dan kecukupan rizki ini harusnya membuat diri kita menjadi insan-insan mulia yang membawa kebaikan, menjadi pribadi-pribadi yang penuh dengan karya dan prestasi dan pribadi-pribadi yang pandai bersyukur dari setiap nikmat yang Allah berikan.

***
Hidup sekali mulia, lalu mati masuk syurga... amiin :)


Sahabat….
Hidup akan terus berlalu dan waktu akan terus berputar. Putaran waktu akan membawa kita pada kenyataan hidup yang tidak bisa dipungkiri. Realita kita hari ini adalah cerminan kita dimasa lalu. Begitu pun masa depan kita, akan banyak ditentukan oleh realita kita hari ini.

Maka, saat kita memutuskan untuk bermain-main hari ini, bersiaplah untuk dipermainkan oleh masa depan. Saat kita memutuskan untuk bermalas-malasan hari ini, bersiaplah untuk kerja keras di masa depan. Bermain boleh, tapi bukan untuk main-main. Tertawa boleh, tapi bukan untuk mentertawakan. Perbanyaklah bercermin pada diri sendiri, bukan menyandarkan diri pada orang lain. Sesibuk apapun kita dengan masa depan orang lain, masa depan kita, kita sendiri yang menentukan. Setialah pada proses, karena tidak ada yang terjadi tiba-tiba.

Proses memang butuh waktu, tapi sibuk dengan urusan orang lain juga memakan waktu. Saat kita sibuk dengan masa depan orang lain, ada banyak orang yang sedang sibuk dengan masa depannya. Jangan biarkan diri ini tumbuh dan dibesarkan dengan kesibukan mengurusi masa depan orang lain. Sedang orang lain sudah tumbuh dan dibesarkan dengan kesungguhan proses yang dilaluinya. Setialah pada proses membangun masa depan, semoga kelak Tuhan sampaikan kita pada tujuan akhir dari proses panjang yang kita lalui.

Saat banyak orang lain mengurusi masa depanmu, bersyukurlah!. Itu tanda mereka sangat peduli denganmu. Biarkan mereka mengurusimu sampai waktunya habis dilekang oleh waktu kebesaran masa depanmu. Setialah pada sebuah proses, karena itu pun bagian dari proses pembesar jiwamu. Jika Tuhan saja menguji seorang hamba yang mengaku beriman, kenapa kita tidak mau diuji oleh hamba-Nya untuk sampai pada proses yang diimpikan?. Ujian adalah barometer kekuatan kita melalui sebuah proses. Saat kita mampu melalui setiap ujian itu, keyakinan dan kesungguhan kita pada sebuah proses semakin kuat dan itu yang mempercepat realita hasil dari sebuah proses yang kita citakan.

Bersabarlah, setialah pada sebuah proses. Bukan pada hasil yang diinginkan. Percayailah bahwa tidak ada hasil yang menghianati proses. Demikian sudah menjadi qudratullah. Jika tidak mau melalui sebuah proses, jangan mimpi untuk mendapatkan hasil darinya.

Sahabat….
Kita adalah insan biasa yang tak luput dari dosa dan nista. Maka yakini bahwa tidak ada insan yang sempurna. Kita sepakat bahwa kesempurnaan adalah milik Tuhan yang Hak. Maka saat melihat ketidaksempurnaan orang lain, kita tidak punya kewajiban untuk mengadili ketidaksempurnaanya. Karena saat kita mengadili ketidaksempurnaan orang lain, Tuhan akan mengadili kesempurnaan yang kita yakini di masa yang akan datang. Bersyukurlah saat Tuhan memberimu banyak kelebihan, karena itu amanat-Nya untuk menyempurnakan hamba-Nya yang lain.

Selamat berproses sahabat
Semoga letih panjang perjuanganmu menjadi catatan Tuhan untuk menyampaikan pada masa depan yang direstui-Nya. Semoga besar peluh pengorbananmu menjadi pembesar amal pencapaian masa depanmu. Jangan nistai diri dengan men-judge hamba-Nya sedang kita hidup dengan ketidaksempurnaan diri.

Sahabatmu
Surabaya, 21 April 2016




Dewasa ini, perkembangan tekhnologi berkembang sangat pesat. Teknologi bak jamur di setiap sudut kehidupan manusia modern saat ini. Dengannya mempermudah akses ruang dan waktu, denganya mampu mendongkrak keterbatasan ruang gerak manusia. Ia lahir dan diciptakan untuk mempermudah segara urusan teknis manusia. Abad 21 kini pun tidak terlepas dari perkembangan teknologi, bahkan tidak dipungkiri bahwa bicara abad 21 adalah bicara soal teknologi. Yang menolaknya akan menjadi generasi tertinggal, yang mengikuti perkembanganya menjadi generasi modern. Ia (teknologi) merambah hampir pada semua jenjang usia. Ia hadir dan diakses oleh lintas generasi. Ia hadir dan diakses menerobos ruang dan waktu. ia hadir pula pada setiap sendi kehidupan ummat manusia. Pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, negara bahkan sampai pada soal agama dan teknologi komunikasi itu sendiri.
Kecepatan pertumbuhannya telah membuat manusia terlena dengan kemudahan aksesnya. Ia telah mampu hadir pada setiap detik kehidupan penggunanya. Ia bahkan tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Sehingga tak jarang dijumpai, banyak pengguna teknologi yang sadar atau tidak telah menjadi budak darinya. Ya, budak teknologi!. Ia bukan lagi dikendalikan oleh penggunanya, namun telah mampu mengendalikan penggunanya.
Gadget bagian kecil dari teknologi telah mampu merampas hampir sebagian waktu penggunanya. Games bagian kecil dari softgames teknologi telah mampu merampok waktu generasi muda ummat manusia. Juga medsos (media sosial) bagian dari jaringan teknologi telah mampu mengambil perhatian, waktu dari penggunanya. Teknologi yang sejatinya sebagai media yang dikendalikan untuk memfasilitasi keterbatasan ruang gerak manusia pun beralih fungsi menjadi lifestyle yang mengendalikan kehidupan ummat manusia. Kondisi ini pun telah mampu merubah wajah kehidupan manusia abad 21 yang lemban menjadi cepat dan yang susah menjadi mudah. Kemudahan aksesnya telah mampu menghadirkan prestige tersendiri pada penggunanya. Sehingga tertanam dalam benak manusia bahwa pengguna teknologi adalah manusia modern dan manusia anti teknologi adalah manusia premitif, terbelakang.
Namun demikian, menjadi budak teknologi pun bukan perkara yang benar. Menggunakan dan mengikuti perkembangan teknologi adalah sebuah kepatutan yang tidak bisa terlepas dari zaman abad 21 saat ini, tapi juga kita harus mampu menjadi tuan dari teknologi itu sendiri. Ia (teknologi) menjadi media yang kita gunakan bukan sebagai tuan yang mendalikan kehidupan kita. kita harus mampu mengembalikan fungsi dari teknologi sebagai media, bukan tuan dari aktifitas-aktifitas kita. Dengan dalih apapun, saat kita masih dikendalikan oleh teknologi, kita masih menjadi budak darinya. Menjadi budak darinya adalah menghabiskan ruang dan waktu kita untuknya dengan meninggalkan segudang aktifitas baik kita. Menjadi budak darinya juga adalah saat kita tidak mampu menggunakan teknologi untuk kebaikan dan kebermanfaatan ummat manusia lainnya. Ia (teknologi) lebih dijadikan sebagai media pamor dan citra diri dari pada penebar manfaat itu sendiri. Kondisi inilah yang kemudian menjadikan banyak waktu yang tidak produktif. Kemudahan teknologi bukan akhirnya membuat dan memberi banyak manfaat sebagai fungsi awalnya, namun banyak memberi midorot akibat dari ketidak mampuan diri mengendalikan teknologi dan memilih untuk menjadi tuan darinya.

Sebaliknya, menjadi tuan teknologi adalah ia yang mampu mengendalikan keberadaanya (teknologi). Ia tau kapan harus menggunakan teknologinya dan tau kapan harus mengakhiri menggunakannya untuk aktifitas lain yang lebih bermanfaat. Menjadi tuan teknologi juga adalah ia yang mampu menggunakan teknologi untuk menciptakan dan memberibanyak manfaat bagi sesamanya. Ia mampu mengembalikan fungsi awal dari adanya teknologi yaitu mempermudah ruang gerak manusia. Para tuan teknologi adalah mereka yang bijak dalam menggunakan teknologi. Bagaimana menjadi tuan yang baik bagi teknologi modern dewasa ini? (1) batasi penggunaan teknologi untuk kegiatan yang tidak bermanfaat, (2) gunakan teknologi pada freetime, bukan pada waktu-waktu produktif (kerja, belajar dan ibadah) waktu-waktu produktif harus tetap menjadi hal yang utama dari penggunaan teknologi itu sendiri, (3) manfaatkan ia untuk menebar kebaikan pada sesama. 


“……Banyak orang beragama, tapi tidak mengenal Tuhannya.”

Pernakah pada satu waktu kita merasakan kesempitan hidup?, pernakah kita suatu saat mendapatkan ujian atau bahkan cobaan dalam hidup?, hal, peristiwa atau kejadian-kejadian yang membuat diri ini lemah, putus asa bahkan menyalahkan Tuhan seolah Tuhan tak adil dan sebagainya?. Jika pernah, bersyukurlah! Ya bersyukurlah, itu adalah bagian dari cara Tuhan mengenalkan diri-Nya. Ada banyak cara Tuhan mengenalkan dzat-Nya pada makhluk ciptaan-Nya. Alam semesta, bumi, langit, gunung, laut, hewan, tumbuhan dan seluruh isi dunia bahkan peristiwa hidup ummat manusia ini adalah beberapa dari sekian banyak cara Tuhan mengenalkan diri-Nya pada makhluknya. Hanya saja, sering kita tak mengenal atau bahkan tidak mau mengenalinya. Maka bersyukurlah saat hidup terasa sempit, beban hidup terasa berat, bisa jadi itu bagian dari cara Tuhan mengenalkan dirinya pada diri kita. Tuhan terlalu sayang pada kita ketika hidup mulai jauh dari-Nya. Sambutlah Ia sebagaimana kita menyambut kehadiran orang-orang penting dalam hidup kita, karena tidak ada ujian hidup manusia yang melebihi kapasitasnya, demikian Tuhan sudah banyak menyampaikan dalam kalam-Nya. Tuhan hanya ingin kita mengenali-Nya sebagai Tuhan. Hidup menghamba hanya pada-Nya. Tidak ada Tuhan selain Dia pemilik hidup dan kehidupan ini, dzat yang memiliki kuasa atas segala pristiwa dunia ini, Rabb pemberi rizki setiap ummat. Bersyukurlah!, karena bisa jadi kita baru mengenal Tuhan saat hidup mulai sempit, saat beban hidup menjadi berat, dan saat tak ada lagi tempat menggantungkan hidup.
Tidakkah sering kita mendengar atau bahkan mengalami peristiwa hidup ini yang diluar nalar dan kemampuan kita sebagai manusia. Hal yang sepertinya tidak mungkin yang pada akhirnya terjadi, hal yang sepertinya berat, pada akhirnya menjadi ringan. Anak yang tidak memiliki ayah dan hidup hanya dengan seorang ibu dan hidup dibawah garis kemiskinan bukan lagi menjadi mustahil mendapatkan pendidikan sampai pada perguruan tinggi jika Allah sudah berkehendak. Seorang anak yang hidup sebagai tuna netra bukan lagi menjadi mustahil menjadi para hafidz qur’an. Ada banyak cara Tuhan hadir dihati setiap mu’min, mengenalkan diri-Nya, dan mengenalkan dzat-Nya. Sambut Ia, peluk ia dengan dekapan iman yang kita miliki. Semoga kita menjadi bagian dari hamba-Nya yang beriman, menjadi hamba yang mengenal hakikat Tuhan-nya. Amiin.
***
Kesibukan duniawi telah memaksa kita untuk hidup sangat sibuk dengan berbagai aktifitasnya, bahkan kesibukan itu telah membuat kita tidak punya waktu untuk membaca diri, merefleksikan pada diri sendiri, apakah diri kita sudah mengenal, dan merasakan hakikat keberadaan Tuhan dalam hidup kita, karena ada banyak orang yang beragama, namun ia tidak mengenal Tuhannya. Adakah hal itu terjadi pada diri kita?, hidup beragama namun gersang dari nilai-nilai ajarannya, hidup beragama namun sedikit waktu bersama dengan Tuhan, dan hidup beragama namun tidak patuh pada perintah dan larangan Tuhannya. Jika hal itu terjadi, saya mengajak pada saudara untuk berpikir dan memikirkan hidup ini, adakah hidup ini yang tercipta, terjadi tanpa kuasa-Nya?, adakah pertolongan selain pertolongan-Nya?, adakah rizki yang kita nikmati selain rizki-Nya?, lantas kemudian kenapa diri ini enggan menjalankan nilai-nilai ajaran-Nya, tak punya banyak waktu dengan-Nya, bahkan sampai berani membangkang pada-Nya.
Kesibukan dunia telah membawa kita pada kegersangan hidup beragama, kesibukan dunia telah melalaikan kita punya Tuhan, kesibukan dunia telah menghantarkan kita menjadi ummat yang membangkang. Seperangkat indra yang Tuhan titipkan pun seolah tak berguna. Akal, pikiran, juga hati yang Tuhan berikan seolah tak berfungsi. Bagaimana tidak, semua fasilitas hidup yang sudah Tuhan berikan pun tidak menjadikan kita kemudian menjadi hamba terbaik-Nya. Apakah hati ini sudah “berkarat” sehingga tak mampu menerima nuur-Nya?, apakah pikiran ini sudah tertutup sehingga tidak lagi bisa menerima kebenaran?, apakah naluri ini sudah sirna sehingga menabrak semua cara kebathilan?. Sejauh itukah kondisi kita saat ini sehingga gersang sekali nampaknya hidup beragama. Susah menerima kebenaran dan enggan menjalankan kewajibannya. Ruh ibadah hilang, pengabdian pada Tuhan menjadi ceremonial yang tidak menyentuh dasar hati. Jika demikian adanya, hendak dibawa kemana kehidupan ini. Bukankah muara kehidupan ini adalah akhirat?.
Serangkain pertanyaan di atas mungkin saja mudah dijawab dengan lisan. Namun tidak dengan hati yang bersih. Hati yang bersih akan menangisi keadaan demikian, karena ia sudah tidak mengenal lagi Tuhannya. Hati yang jernih akan memilih untuk kembali pada-Nya, mengenal dzat-dzat keberadaan-Nya dan hidup berdamai dengan-Nya. Sebagaimana judul bab ini di atas, banyak cara Tuhan mengenalkan diri-Nya pada hamba. Cara Tuhan mengenalkan diri tidaklah seperti manusia sebagai makhluk-Nya. Keberadaan alam raya dan seisinya dan segenap ketentuan-ketentuan-Nya adalah bagian dari cara Tuhan mengenalkan diri-Nya. Lebih dari itu, Tuhan itu dekat dengan hamba-Nya.
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah-Ku) dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran (Qs. Al-Baqoroh: 186)
Dan sungguh, kami telah menciptakan manusia dan mengetahui yang dibisikan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Qs. Qaf: 16)
Dua ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa Tuhan (Allah) dekat dengan hamba-Nya. Maka jika diri ini tidak mampu mengenalinya, bisa jadi diri ini yang terlalu kotor, jauh dari-Nya sehingga kita tidak mampu mengenalinya sebagai Tuhan. Berat menjalankan ibadah dan ringan melakukan maksiat adalah bukti kita tidak mengenali Allah sebagai Tuhan. Sebab yang demikian, bisa jadi karena telinga , hati dan mata kita telah dikunci oleh Allah SWT (Qs.Al-Baqoroh:18). Sehingga kita tidak mampu merasakan keberadaan dan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Akibat dari tidak beriman kepada-Nya lah yang membuat hidup kita terombang-ambing dalam kesesatan (Qs. Al-Baqoroh:13-15). Wallahu a’lam.


“Kita tidak bisa memaksa waktu untuk berjalan lambat | yang harus kita lakukan adalah mempercepat laju pertumbuhan diri ”
***
Sedari dulu waktu sudah berlangsung seperti saat ini, bahkan saat kita tiada pun dulu, waktu sudah ada. Waktu diciptakan Tuhan beringingan dengan penciptaan alam raya ini, dunia dan seisinya. Waktu memiliki banyak sejarah ummat manusia dan dunia ini. Waktu juga mencatat banyak peristiwa dalam kehidupan ummat beragama. Waktu yang berlalu akan menjadi sejarah yang tak bisa diulang, waktu yang berlangsung adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, dan waktu yang akan datang menjadi sebuah harapan. Waktu menjadi sangat penting bagi keberlangsungan ummat manusia di dunia. Manusia pun hidup diciptakan beriringan dengan waktunya, maka saat waktunya berakhir, hidupnya pun akan berakhir. Begitu sangat pentingnya waktu bagi ummat manusia, Tuhan banyak menyebut dalam kalam-Nya. Demi Masa, Demi Waktu Duha, Demi Waktu Fajar, Demi waktu Malam. Dari waktu yang Tuhan ciptakan semuanya tersebut dalam kalam-Nya.
Kenapa demikian pentingnya Tuhan menyebut waktu-waktu-Nya dalam Al-Qur’an?, adalah menjadi sebuah perenungan bagi kita sebagai hamba-Nya. Tentu ada maksud dan tujuan yang Tuhan siratkan dalam kalam-Nya sebagai warning bagi manusia untuk hidup berdamai dengan waktu. Mempergunakannya dengan amalan baik, dan melaluinya dengan “sejarah”. Waktu akan terus berjalan sesuai dengan ketetapan dan ketentuannya. Kita tidak bisa memaksanya untuk maju atau mundur, apalagi memintanya untuk berhenti. Hal yang harus kita lakukan adalah dengan mempercepat laju pertumbuhan diri kita. Jika kita tidak mampu mengiringi proses perjalanannya, maka kita pun akan tertinggal oleh kecepatan lajunya. Begitupun dengan amalan/aktifitas, jika kita tidak melaluinya dengan amalan baik, maka akan terisi dengan amalan yang tidak baik. Bukankah waktu hanya mencatat orang-orang “hebat” yang bisa berdamai hidup denganya?, bukankah pula waktu yang menuliskan orang-orang “biasa” yang tidak bisa berdamai hidup denganya?. Akan selalu ada dua pilihan dalam berdamai dengannya; (1) sekarang atau nanti, (2) baik atau buruk. Artinya, saat kita memilih untuk melakukan, berbuat, dan bertindak sekarang, kita memilih untuk berjalan beriringan dengannya, begitu sebaliknya. Juga saat kita memutuskan untuk melakukan, berbuat, dan bertindak baik, kita memilih untuk mengisinya dengan kebaikan, begitu sebaliknya.
Namun demikian, juga akan selalu menjadi pasangan yang selalu berdampingan antara; (1) sekarang-baik, (2) sekarang-buruk, (3) nanti-baik dan (4) nanti-buruk. Tugas kita adalah menyelaraskan semua aktifitas, amalan kita dengan waktu yang kita miliki, dengan waktu dan pasangan baiknya. Jika kita menilik kehidupan orang-orang besar yang hebat dan penuh karya, sebagian besar mereka menggunakan waktunya dengan pola “sekarang-baik”. Sehingga dia selalu hidup beriringan dengan kebaikan waktunya. Begitu sebaliknya, mereka yang hidup “biasa” karena waktunya selalu dipasangkan dengan “sekarang-buruk”. Sehingga dia selalu hidup beriringan dengan keburukan waktunya, dan mereka adalah yang waktunya habis dengan amalan buruknya, waktunya habis tanpa karya, dan waktunya habis dengan sia-sia. Inilah yang menjadi catatan penting yang kemudian kenapa Tuhan banyak menyebut dalam kalam-Nya, agar kita hidup penuh makna. Menggunakan dan melalui waktu-Nya dengan penuh karya.
Mereka yang tidak mengikuti proses perjalanan waktu dengan kebaikannya, maka ia akan tergilas, tertinggal dengan sendirinya. Dan mereka yang mengikuti proses perjalanan waktu dengan kebaikannya, maka ia akan dicatat oleh waktu menjadi sebuah sejarah. Itulah kemudian kenapa sejarah hanya mencatat sebagian kecil ummat manusia di dunia ini. Waktu menjadi moment yang sangat berharga yang diberikan satu-satunya dalam kehidupan ummat manusia oleh Tuhan. Saat kita mengabaikannya sama dengan kita merelakan moment berharga itu berlalu begitu saja.
Hal yang menjadi penting dalam waktu adalah bagaimana mengelolanya. Jika ia tidak terkelola dengan baik, maka bukan tidak mungkin akan rusak. Dalam mengelola waktu, Tuhan sudah banyak mengajarka ummat manusia dalam banyak ayat-Nya. Waktu fajar, agar kita mengawali waktu dengan sujud di hadapan-Nya. Waktu duha, tempat kita mengadu rizki-Nya. Waktu malam, agar kita sujud merendahkan dan menumpahkan peluh aktifitas kita, dan Demi Masa, Allah me-warning kita untuk selalu dalam koridor iman dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Dalam kontek ini, Tuhan mengingatkan agar kita agar aktifitas waktu kita produktif sepanjang masa. Dalam kontek ini pulalah Tuhan ingin menyampaikan bahwa produktifitas waktu kita ada pada ibadah kepada-Nya. Saat kita patuh, disiplin dan mengutamakan waktunya untuk ibadah kepada-Nya, maka urusan dunia kita akan Allah mudahkan dengan waktu-Nya.
Sudah sebuah kepastian, bahwa waktu akan terus berjalan, tidak peduli kita mengikutinya atau tidak. Waktu akan terus berlalu, tidak peduli kita tumbuh dengan kebaikan atau tidak. Waktu akan terus berjalan sampai pada masa ia harus berhenti dan mengakhiri semuanya. Dari hal inilah yang kemudian harus menjadi perenungan diri ini. Sejauh mana kita berdamai dengan waktu?. Jika saat ini kehidupan kita masih “biasa”, bisa jadi karena kita selalu mengisinya dengan rutinitas yang “biasa”, begitu sebaliknya. Hari ini adalah jawaban atas masa lalu kita, dan jawaban masa depan kita ada pada hari ini. Demikian konsep waktu, ia akan “kejam” bagi yang melalaikanya, sebaliknya, ia akan “baik” bagi yang berdamai dengannya.
Semoga kita senantiasa mampu mengemban waktu sebagai amanat yang Tuhan titipkan. Senantiasa produktif dan melaluinya dengan amalan yang bermakna. Wallahu ‘alam. 


Saya teringat dengan ungkapan ”pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok”, “pemuda bukanlah yang mengatakan inilah bapakku, tapi yang mengatakan inilah aku”. Belum lagi ketika saya membaca beberapa tulisan baik artikel, esai, hadist nabi sampai pada firman Allah dalam Al-qur’an yang membahas tentang pemuda, nampaknya peran pemuda mendapatkan posisi yang istimewa dalam kehidupan manusia. Kenapa demikian?, tentu karena peran pemuda sangat strategis dalam kehidupan manusia baik dalam berbangsa, bernegara dan beragama.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tentu kita ingat ungkapan presiden pertama kita yang mengatakan “berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang dunia”. Ungkapan ini menunjukan bagaimana pemuda memiliki peran penting dalam menghantarkan kemerdekaan bangsa ini. Jika kita tilik dalam literature-literature sejarah bangsa ini, banyak sekali peran pemuda dalam kemerdekaan indonesia. Begitu istimewanya pemuda dalam sejarah kemerdekaan bangsa ini sampai diabadikan dalam momentum sumpah pemuda yang kita peringati setiap tanggal 28 oktober tiap tahunnya. Selain itu tentu kita ingat sekali dengan peristiwa rengasdengklok, sebuah peristiwa yang berada di penghujung perjuangan meraih kemerdekaan, siapa dalang di balik peristiwa itu? para pemudalah yang mendesak para petinggi pencetus kemerdakaan indonesia untuk secepatnya menyusun naskah proklamasi dan menyatakan bahwa bangsa Indonesia ini telah terbebas dari para penjajah. Belum lagi tragedi ’98 yang mampu melengserkan kekuasaan orde baru yang berkuasa selama 32 tahun lamanya, siapa aktor di balik tragedi tersebut? Para pemudalah yang mendesak dan meruntuhkan rezim orde baru tersebut.
Dalam kehidupan beragama tentulah pemuda memiliki peranan, keistimewaan yang jauh lebih luas dari apa yang saya paparkan di muka. Beberapa contoh yang sampaikan di atas, adalah bagian kecil dari konsep pemuda yang disampaikan dalam agama. Agama jauh lebih memiliki konsep, memulyakan pemuda dalam kehidupan manusia. Pemuda disebut sebagai satu kekuatan di antara dua kelemahan dalam agama. Kenapa disebut demikian dalam agama? Mari kita lihat firman Allah berikut ini:
۞ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi maha kuasa (QS. Ar-Rum:54)

Dalam banyak tafsir yang menjelaskan ayat ini, keadaan lemah yang dimaksud dalam ayat ini adalah Allah menciptakan manudia dari setetes air hina kemudian allah jadikan manusia kecil (bayi) yang tidak memiliki daya kekuatan (lemah), kemudian allah jadikan ia kuat (pertumbuhan manusia menjadi sosok remaja dan pemuda) dan kemudian Allah lemahkan kembali (usia tua) ditandai dengan uban.
Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa peran pemuda sangatlah strategis dalam kehidupan manusia itu sendiri. Sosok pemuda diberikan oleh Allah sebuah kekuatan untuk berbuat sesuatu dalam hidupnya. Masa muda allah analogikan sebagai sebuah kekuatan di antara dua kelemahan. Hal ini menunjukan bagaimana pentingnya peran dan fungsi pemuda dalam kehidupan manusia. Sekaligus Allah ingin menyampaikan pada kita bahwa masa muda bukanlah masa yang dihabiskan dengan amalan-amalan yang tidak bermanfaat, karena masa muda adalah sebuah kesempatan yang allah berikan untuk melakukan sebabnyak-banyaknya manfaat. Maka sebuah kerugian besar jika mereka (pemuda) yang melalui masa itu dengan tidak melakukan sebanyak-banyaknya manfaat, sebanyak-banyaknya amal sebelum ia kembali dilemahkan difase kedua oleh Allah SWT pada masa tua nanti. Masa muda adalah sebuah masa keemasan seorang manusia. Langkah-langkah strategis manusia dimulai dari masa mudanya, tak terlepas dari berbagai aspek kehidupan manusia lainnya. Sebuah negara, bangsa yang memiliki para pemuda yang kuat, hebat dan berkualitas akan melahirkan sebuah bangsa yang besar. Sebuah agama yang memiliki pemuda, remaja yang sholih, taat pada Allah dan rosul-Nya, tunggulah masa kejayaan agama tersebut. Tidakkah sejarah membuktikan demikian, islam lahir dan dibesarkan oleh para pemuda. Sebut saja muhammad alfatih, pemuda perkasa yang mampu menaklukan konstantinopel, sebuah kota yang rasul janjikan dan sulit untuk ummat muslim taklukkan. Belum lagi para sahabat-sahabt rasul, abu bakar, umar, usman, ali dan 10 sahabat lainnya yang dijanjikan masuk syurga yang memulai awal perjuangan islam di usia muda, ke-10 sahabat itu usianya dibawah rasulullah, dan merekalah yang menegakkan pilar-pilar agama ini. Subhanallah…!.
Islam sangat memulyakan peranan pemuda, sehingga islam mendidik ummatnya untuk handal diusia muda dengan meletakkan dasar aqidah yang kuat sejak kecil. Rasul mendidik anaknya solat sejak usia 7 tahun, para generasi muslimin lainnya sudah banyak yang mengenalkan alqur’an sejak kecil sehingga banyak bertebaran anak-anak kecil penghafal alqur’an. Dua inilah yang membuat ummat islam jaya dimasanya, karena inilah pondasi dasar penanaman aqidah ummat dalam islam yang membawa islam pada puncak keemasan. Melihat pentingnya peran strategis pemuda itulah, pemuda menjadi objek, sasaran penghancuran islam oleh musuh-musuhnya.
Bertolak dari yang saya kemukakan di atas, saya merefleksikan pada diri sendiri, para pemuda dan remaja saat ini yang sudah hidup jauh dengan solat dan alqur’an. Saat ini, berbicara pemuda dan remaja yang ada dalam benak kita adalah kenakalan remaja, sex bebas, narkoba, miras, buli, geng motor dan segudang label ketidak baikkan lainnya. Anak-anak muda saat ini sudah jauh hidup dari konsep agama dan alqur’an. Sebagian waktunya habis untuk kegiatan yang tidak bermanfaat, hidupnya tanpa karya, dan aqidahnya mudah goyah. Ini semua terjadi karena pemuda sudah dijauhkan dari nilai-nilai agama. Pemuda disuguhkan dengan tontonan-tontonan yang amoral, pemuda dilalaikan dengan kehidupan hedonis yang melemahkan agama. Jika ada pemuda yang baik maka menjadi objek ejekan bahkan diasingkan dalam pergaualan, sebaliknya pemuda yang tidak baik dipuja bak pahlawan. Pemuda yang tidak pacaran, merokok, berpenampilan baik dikata cupu, kampungan dan tidak gaul, tapi sebaliknya pemuda yang gunta ganti pacar, berpenampilan senonoh dikata pemuda modern, pemuda kekinian. Astagfirullah!

Jika bangsa ini dibangun oleh generasi yang lemah, maka jangan berharap menjadi bangsa yang besar, jika agama ini ditumbuhi dengan pemuda yang lemah, tunggulah kehancurannya. Namun sebaliknya bangsa dan agama ini akan jaya, tatkala para pemudanya hidup dengan nilai-nilai alqur’an, pemudanya hidup penuh karya, pemudanya hidup penuh makna. Jika sudah demikian tunggulah masa keemasan itu akan kembali datang. Wallahu a’lam.  

Author Name

{picture#https://photos.google.com/photo/AF1QipPhwXqnQPZt7roDvDRN1IYTUDAUIbcEWi69thWv} Selamat Datang dan Selamat Membaca di Suhe's Blog. Blog ini saya buat sebagai tempat belajar dan berbagi. Karena kewajiban seorang muslim adalah untuk terus belajar, dan seorang muslim terbaik adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Semoga memberi manfaat :) {facebook#https://www.facebook.com/akhi.suhe} {twitter#https://twitter.com/suhe_20} {google#https://plus.google.com/u/0/115152556635352635251}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.